Beberapa waktu yang agak lama, banyak sekali vt vt yang menggambarkan beban yang di tanggung seorang anak, baik itu anak pertama, kedua maupun anak terakhir. ada juga anak tunggal dengan caption vt "beratnya beban jadi anak tunggal. jadi satu satunya harapan keluarga".
Awalnya aku hanya menyimak saja, hanya membaca gimana perasaan kondisi mereka sabagai seorang anak yang terlahir baik itu pertama, kedua, tunggal maupun akhir tanpa aku memberi sudut pandang dari diriku sendiri yang kebetulan aku anak pertama dari banyaknya sudara. 9, iya bener sembilan.. aku anak pertama dari sembilan bersaudara. keren kan ? kebayang gak di rumah yang kecil ada 11 orang.
Vt vt yang berseliweran belum berdampak pada pemikiran ku, sembari membaca aku memberitahu diriku, diriku saat ini belum sepenuhnya sadar bahwa sebenarnya aku juga sedang merasakannya namun aku hanya mengangapnya sepele, jadi beban yang aku terima tidak begitu terasa.
Namun entah kenapa, setelah menemani adek saya masuk ke sekolah menengah atas aku sedikit kerasa, tidak tau kenapa aku harus membantunya, harus membantu menyiapkan ini itu, membayar ini itu yang sebenarnya uang ku itu pas pas-an. pas aja, gitu, PAS. ya karena memang hati kecil ini mengatakan aku harus melakukannya ya sudah maka kulakukan. bukan soal duit, bukan soal seberapa nilai yang ku keluarkan, namun hanya sekedar bahwa aku merasa beban anak pertama mulai kerasa. Gimana sih rasanya saat kamu punya satu satu terus di kasihkan ke seseorang yang lebih membutuhkan? Bahagia bukan, tapi ya diri sendiri yang di korbankan. sebenernya ada sesuatu yang ingin aku wujudkan terlebih dahulu, ada sesuatu yang ingin aku lakukan terlebih dahulu, namun karena masa depan adek ku yang juga penting dan sebagai seorang kakak, aku juga harus memikirkan nya, dan akhirnya cita-citaku harus ku undur di lain waktu yang aku sendiri tidak yakin, apakah itu bakat terwujud atau hanya angan-angan belaka.
kalau dipikir-pikir, bukan hanya ini saja, ternyata masa depan ku juga terpengaruh oleh adek-adek ku. Bukan, bukan aku mau menyalahkan kehadiran mereka, justru mereka lebih baik, lebih layak di pertahankan, lebih layak untuk menerima hal yang lebih baik, terbukti kebanyakan adek ku lebih banyak prestasi dari mulai sd selalu mendapat 3 besar bahkan sering kali peringkat 1 dan di susul beberapa adek ku yang membuatku agak iri, memiliki bakat yang memang jelas sudah ada dari lahir, sedangkan aku hanya bisa melakukan apa yang benar-benar bisa kulakukan, berharap yang ku lakukan memberikan hasil dan nyatanya?.. materi yang harusnya lebih banyak ku dapat dari orang tua nyatanya harus di bagi dengan 6 saudara, dan setelah dewasa apa yang aku dapatkan meski bukan kewajiban, aku juga perlu memberikan, memikirkan adek-adek saya.
entah, menulis seperti ini apakah pantas dilakukan sebagai seorang pria? saat sampai di sini ingin rasanya menghapus semua kata yang sudah tertulis di atas, ingin aku menyimpannya sendiri dan berharap orang lain mengerti. namun, orang lain tidak akan pernah mengerti jika tidak di beritau, hanya orang yang bernasib sama, di posisi sama, merasakan penderitaan yang sama yang akan tau, tapi itu pun tidak akan benar benar tau, yang benar-benar tau hanya diri sendiri.
sebagai seorang pria normal sudah sewajarnya juga memikirkan seorang wanita. terkadang ketika melihat seseorang yang diimpikan, ingin sekali memilikinya, berharap bisa mengobrol bersama, bercerita berbagi suka. Namun, yang di perlukan oleh wanita bukan hanya rasa cinta maupun sayang, Tapi juga Bukti, Pencapaian, dan Tanggung jawabnya.
Lantas, bagaimana pencapaian itu harus ku capai jika jalan yang ku tempuh begitu terjal?















